Kebanyakan anak muda zaman
sekarang membidik bisnis berbasis
internet karena gampang menghasilkankan uang, murah, dan cepat kaya. Tetapi menggarap sektor
riil (penghasil barang) ternyata juga bisa melahirkan miliarder baru dari modal
yang tak seberapa. Salah satunya adalah Xiaofeng Peng, pemuda kelahiran China,
34 tahun lalu.
Berbeda
dengan pengusaha muda sukses dari Barat yang cenderung drop-out(seperti
Mark Zuckerberg - Facebook atau Bill Gates saat memulai Microsoft),
Xiaofeng justru berkembang karena giat belajar. Selain itu, ia juga cerdas yang terlihat dari track-record
pendidikannya yang cemerlang, selalu masuk tiga besar di sekolahnya dan pernah juara Olimpiade Matematika di negaranya.
Selama
SMA ia tak hanya kursus bahasa Inggris, tetapi juga belajar sendiri bahasa
Jepang dan Jerman setelah tak menemukan tempat kursusnya. Setamat SMA ia
melanjutkan kuliah di Jiangxi Foreign Trade School hingga meraih
diploma pada tahun 1993. Setelah itu mengejar MBA di Beijing University
Guanghua School of Management yang ia selesaikan tahun 2002.
Namun
sukses tak bisa diraih dengan mudah. Xiaofeng pun mengalami beberapa tahapan hidup sebelum menekuni
bisnis yang membuatnya jadi salah satu pemuda Asia terkaya di dunia. Dimulai
ketika ia bekerja di Jian
City Foreign Trade Bureau, sebuah lembaga pengembangan ekspor di provinsi
Jiangxi. Di lembaga ini ia bertugas menganalisa perdagangan luar negeri China.
Mungkin
dari situlah ia menemukan peluang ekspor. Itu tak disia-siakannya. Pada tahun
1997 bersama sejumlah temannya mendirikan Liuxing Industries
Limited, sebuah perusahaan ekspor-impor yang bergerak di bidang
perdagangan alat-alat keselamatan kerja seperti sarung tangan, safety shoes,
pakaian kerja, dan sebagainya. Ia pun mengajukan diri keluar dari Jian
City Foregin Trade Bureau agar lebih serius mengelola bisnis sendiri.
Namun
lembaga pemerintah daerah ini menahannya karena prestasinya cukup baik. Entah
bagaimana ceritanya, Xiaofeng justru punya ide mendirikan perusahaan yang
memproduksi sendiri alat-alat keselamatan kerja. Maka pemerintah provinsi
Jiangxi pun mau menanamkan investasinya. Dari sinilah berdiri Suzhou Liuxin
IndustrialCompany Limited, perusahaan kerja samanya dengan
pemerintah daerah Jiangxi. Dengan berdirinya perusahaan ini Xiaofeng jadi
memiliki bisnis yang terintegrasi antara produsen alat-alat keselamatan kerja
(melalui Suzhou Liuxin) dan perusahaan pemasarannya (Liuxing Industries).
Hubungan
baik dengan pemerintah daerah juga ia manfaatkan saat memiliki ide
mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Suatu kali di tahun 2001,
karena ia sering bertugas ke Eropa mewakili perusahaannya, Xiaofeng menyadari
betapa Eropa makin intensif memanfaatkan PLTS. Idenya pun muncul. Ia ingin
mendorong pemerintahan China mengembangkan PLTS juga dan ia memasok panel
suryanya.Namun itu tak gampang karena ia buta terhadap teknologinya.
Untung semangat
belajarnya tak pernah surut. Setelah belajar ke sana-sini bahkan menyambangi
pabrik solar sel di AS, tahun 2005 ia mendirikan Jiangxi LDK Solar
Co Ltd, perusahaan pembuat panel surya dan produk pendukungnya. Ia pun
sangat taktis mengumpulkan modalnya. Sebelum pabrik didirikan ia sudah
memasarkannya ke pemerintahan provinsi Jiangxi. Dan setelah pemerintah bisa
diyakinkan dan mau membeli produknya untuk PLTS yang akan dibangun di provinsi
itu, ia mencari pinjaman. Tak sulit mendapatkan modal ketika pembelinya sudah
pasti. Dari sini berdirilah Jiangxi LDK Solar Co Ltd.
Perusahaan
ini memproduksi mulai dari bahan baku solar sel, pemasangannya, pemeliharaannya
dan pendukung lainnya. Tak berapa lama ia pun mendapatkan banyak order. Bahkan
ia bisa mengekspornya. Bisnis ini memang tak begitu banyak di dunia, mungkin
karena aplikasinya belum populer. Kini perusahaan milik Xiaofeng menjadipemasok
industri solar sel terbesar di dunia. Xiaofeng, sebagai pendiri dan pemegang
saham utama, pun menjadi salah satu anak muda terkaya di dunia. Menurut
taksiran majalah Forbes, kekayaannya mencapai US$ 2,5 miliar atau
sekitar Rp 21,2 triliun! Semua itu karena Xiaofeng mengelola potensinya dengan
baik melalui belajar dan keberanian mengambil peluang.
Sumber:
















0 comments:
Posting Komentar