Memasuki tahun yang baru ini patut kiranya memberikan semangat baru
untuk terus memacu memperbaiki hidup. Semangat merayakan pergantian
tahun baru bukan sekadar dengan menggelar pesta kembang api, atau
menghabiskan malam dengan pesta terompet. Namun pergantian tahun ini
selayaknya memberikan kita semangat baru dalam membuat karya nyata dan
prestasi hidup.
Bagi umat Islam memiliki keyakinan bahwa waktu
merupakan merefleksikan diri dalam kehidupan dunia yang akan
dipertangungjawabkan di akhirat nanti. Sebagaimana sudah tertulis di
dalam Alquran yang berbunyi artinya, “Adalah orang yang merugi jika
hari ini sama dengan hari kemarin dan hari esok lebih buruk dengan hari
ini. Dan kamu akan termasuk kaum yang beruntung jika hari ini lebih
baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”
Pemahaman
itu memberikan keyakinan bagi kita bahwa waktu bukan sekadar kumpulan
angka-angka yang tertera pada jarum jam atau di kalender. Tetapi waktu
adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT,
Sang Pemilik Zaman.
Memaknai pergantian tahun itu sebagai momentum perubahan budaya secara individual (ibda’ binafsih),
keluarga dan masyarakat yang selama tahun sebelumnya mungkin masih ada
kekurangan atau kealpaan, diarah lebih baik di masa mendatang.
Perubahan ini bisa terjadi apabila setiap jiwa umat Islam mampu
‘menghijrahkan’ seluruh kekuatannya (pemikiran dan tindakannya) bagi
kemajuan dalam kehidupan secara pribadi.
Perubahan yang dimulai
dari rumah tangga dan dilanjutkan melalui lembaga pendidikan akan
membawa dampak positif sejalan dengan perkembangan. Semua itu harus
dimulai dari sekarang sebagai menciptakan negerasi muda Islami yang
mampu melakukan perubahan dalam kehidupan. Sebab sudah digariskan dalam
Islam bahwa “Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali
kaum itu sendiri yang akan mengubahnya”.
Karena itu ada tidaknya
perubahan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat sangat
tergantung pada individu atau kelompok tersebut. Itu langkah minimal
yang sejatinya dilakukan setiap muslim dalam memaknai pergantian tahun
ini.
Intinya, Islam juga mengajarkan, bahwa hari-hari yang
dilalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setiap
Muslim dituntut untuk selalu berprestasi, yaitu menjadi lebih baik dari
hari ke hari, begitu seterusnya. Dengan keyakinan itu, maka orientasi
kerja-kerja keduniaan yang selama ini kita lakukan patut kiranya di
tahun 2012 kita ubah berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan (ma’rufat) dan membersihkannya dari pelbagai kejahatan (munkarat).
Dalam hal ini, ma’rufat mencakup segala kebajikan (virtues) dan seluruh kebaikan (good qualities)
yang diterima oleh manusia sepanjang masa, sedangkan munkarat menunjuk
pada segenap kejahatan dan keburukuan yang selalu bertentangan dengan
nurani manusia. Nilai kebaikan bisa diejawantahakn dengan bekerja
berprinsip nilai kejujuran dan profesionalitas.
Sikap jujur
sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW agar dapat berperilaku yang
baik dengan “menjauhi dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan
dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan
membawamu kepada kebajikan dan membawamu ke surga.” (HR Bukhari dan
Muslim).
Pribadi yang jujur merupakan roh kehidupan yang teramat
fundamental, karena setiap penyimpangan dari prinsip kejujuran pada
hakikatnya akan berbenturan dengan suara hati nurani. Seperti contoh,
para penyelenggara negara pada setiap aktivitas dalam rangka melayani
masyarakat tentunya tidak menanggalkan prinsip kejujuran.
Dengan
pemahaman itu, maka patutnya pergantian tahun 2012 ini kita jadikan
sebagai momentum mengubah diri menuju perubahan dalam segala bidang
sebagai upaya penyatuan umat Islam Indonesia. Momentum Hijriah ini
dinilai tepat untuk mengukit prestasi secara individu serta kelompok.
Oleh : Dr HM Harry Mulya Zein
Sumber :
















0 comments:
Posting Komentar